Pria Ini Meninggal Dunia Menjelang Pernikahannya. Apa yang Diperbuatnya Sungguh Menyedihkan

Setiap insiden yang menimpa insan alangkah baiknya dijadikan pelajaran berharga dan sekiranya sanggup mengambil hikmahnya. 

Dalam berinteraksi atau bekerjasama dengan lawan jenis antara laki-laki dan perempuan sebaiknya haru berhati-hati dan tidak terjerumus kedalam hal yang tidak di inginkan. Terlebih bagi pasangan yang ingin menikah harus tetap menjaga diri hingga benar-benar telah dilangsungkan pernikahan. Meskipun menjalani relasi dalam bumbu 'ta'aruf, khitbah bila tidak membatasi diri sanggup terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Karena syaitan sangat bersemangat menarik hati manusia.

Gambar sekedar ilustrasi
Sebelum melanjutkan membaca kisah ini sebaiknya baca kisah dibawah ini :


Berikut kisahnya :

Ini dongeng perihal seorang perempuan yang selalu menyampaikan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang bekerjasama dengan dosanya. Tapi bagaimana bila ujian berikut sehabis taubat ialah untuk mengasihi penanda dosanya?

Dan perempuan dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mengasihi penanda dosanya.

“Saya hanya ingin membuatkan dan mohon doa semoga dikuatkan”, ungkapnya ketika kami bertemu di suatu kota selepas sebuah program yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelaki nya, ia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, ia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, nirwana masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan dongeng indah di semester simpulan kuliah. Dia muslimah nan taat, pencetus dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi tumpuan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan senang di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi terperinci tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, perjuangan yang dirintisnya sendiri semenjak kuliah telah mengentas banyak mitra dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari kesepakatan dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan kendaraan beroda empat barunya tiba ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon daerah tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta semoga batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut lantaran mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan administrator muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang sanggup mendampingi semoga planning hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada program dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang mitra kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, ia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka risikonya harus berdua saja meninjau rumah gres daerah kelak nirwana cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi cantik dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan derma seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami berdiri nirwana dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melaksanakan dosa besar terlaknat itu”, ia tersedu. Saya tak tega memandang ia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelaki nya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti hingga di situ”, lanjutnya sehabis agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada mitra yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya gundah harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak gampang untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih menciptakan saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di daerah dalam kecelakaan itu.”

“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang sekarang digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang tiba sehabis ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus sehabis ia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya besar lengan berkuasa Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih gundah alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami sanggup percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan laki-laki lain yang menciptakan putra kami tersayang meninggal lantaran frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali ia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berkembang menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mengasihi anak itu sepenuh hati.” Aduhai, nirwana masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan. (sumber ukhtiindonesia.com)

Sahabat. Setiap insan insan niscaya memiliki kesalahan dan berdosa kepada Yang Mahakuasa SWT. Hanyalah seorang Rasulullah SAW junjungan alam sebaik-baiknya insan yang tidak pernah berdosa. Semoga Yang Mahakuasa menawarkan keampunannya kepada yang disebutkan dalam kisah tersebut dan mengampuni dosa-dosa kita semua, Amin. Sebagai Muslim yang taat sudah kewajiban mendoakan sesama. Semoga bermanfaat, jazakumullah.