Wahai Orang Tua, Jangan Pernah Mengatakan 8 Hal Ini Kepada Anak Terutama Usia Dibawah 7 Tahun
Allah SWT menitipkan setiap anak kepada orang tuanya untuk menjaga, merawat serta mengajarinya perihal syariat Islam. Setiap orang renta niscaya ingin anaknya menjadi seorang anak yang saleh atau salehah dunia alam abadi dan anak menjadi lebih sukses melebihi dirinya sendiri. Pada artikel sebelumnya saya sudah menulis artikel 25 cara mendidik anak mengikuti Islam dan anutan Rasulullah SAW.
Setiap anak niscaya mencicipi pendidikan pertama dari kedua orangtuanya terutama dari Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Disamping anak juga dididik oleh Ayahnya sesudah pulang mencari nafkah.
Pesan Umar bin Khattab : Didiklah anak-anakmu, alasannya ialah mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu.”
Sungguh pesan yang sederhana dan singkat selalu akan diingat setiap orang renta untuk selalu mendidik anaknya.
Orang renta niscaya mendidik anak melalui verbal (perkataan). Sayangnya kebanyakan orang renta terutama Ibu kurang memperhatikan kata-katanya yang bisa menciptakan anak menjadi sedih. Bahkan akhir dari perkataan Ibu atau Ayah yang kurang pantas berdampak pada psikologis anak, dan sanggup mensugesti perkembangan diri anak. Nah,sebagai orang renta jangan pernah menyampaikan 8 hal ini kepada anak :
| Ilustrasi |
1. Berkata-kata negatif perihal diri anak
Kamu Anak bandel !
Kamu Anak pemalas ! Kamu gendut atau kurus !
Perkataan menyerupai itu sangat berbahaya yang sanggup mengganggu psikologis anak secara pribadi atau tidak langsung. Sebisa mungkin harus menghindari perkataan menyerupai itu.
Sebagai orang renta selalu ucapkan perkataan yang baik dan tidak menyinggung perasaan anak. Terlebih perkataan orang renta merupakan doa bagi anak.
Contoh mengganti ucapan ‘kamu anak pemalas’ (karena malas belajar) menjadi ucapan yang lembut kepada anak. ‘Nak, kau harus berguru yang rajin ya, kalau ujian nanti Insya Tuhan sanggup nilai manis dan kau semakin pintar.’ Kalimat menyerupai ini yang ingin didengar oleh bawah umur Anda semua.
2. Jangan pernah katakan “Jangan Ganggu, Ibu Sibuk!”
Sering kita jumpai jikalau orang renta baik Ibu atau Ayah sering menyampaikan hal demikian. Meskipun hal ini normal namun tidak baik untuk diucapkan kepada anak.
Kebanyakan kejadian perkataan menyerupai itu muncul pada ketika anak sedang membutuhkan dukungan orang tuanya. Katakanlah, anak usia sekolah dasar sedang mengerjakan PR, kemudian beliau pergi mencari Ibu atau Ayahnya, diwaktu bersamaan orang tuanya sedang sibuk. Kadang orang renta berkata ‘ Ayah/Ibu sedang sibuk, jangan ganggu’.
Menurut Suzette Haden Elgin PhD, penulis yang juga seorang instruktur bela diri verbal dikutip dari parenting.com, bahwa jikalau orang renta bertindak menyerupai itu, bawah umur mungkin merasa tidak berarti alasannya ialah jikalau mereka meminta sesuatu pada orang renta mereka, mereka akan diberitahu untuk pergi.
Jangan hingga menyampaikan kata-kata menyerupai itu kepada anak-anak. Jangan mengakibatkan prasangka bagi anak, ia mempunyai orang renta yang kurang perduli terhadapnya. Apalagi hal ini setiap hari terjadi, maka ketika mereka (anak) cukup umur jangan harap mereka akan berbicara dengan orang tua.
Jika Anda memang benar-benar terlalu sibuk, sebaiknya minta maaf dengan lembut kepada anak. Coba alihkan beliau sementara waktu, bisa menyuruhnya nonton atau bermain sejenak sembari Anda menuntaskan pekerjaan. Kemudian kembali tiba menemui bawah umur dan membantu mereka.
3. Jangan pernah menyampaikan jangan menangis, jangan cengeng.
Jangan Menangis ! Jangan Cengeng !
Anak-anak yang masih berusia pendidikan usia dini atau sekolah dasar kelas 1-3 sering bertengkar dengan teman-temannya atau anak menerima perlakukan kurang menyenangkan dari sahabat mereka. Alhasil ketika menjemputnya, ia akan menangis dihadapan Anda. Tidak usah menyampaikan jangan cengeng, jangan menangis atau lainnya.
Seorang psikolog anak, Debbie Glasser mengungkapkan. Mengatakan kata-kata tersebut kepada anak bisa berefek anak berprasangka menangis bukanlah hal baik. Padahal setiap insan niscaya mencicipi duka yang merupakan ekspresi dari emosi.
Sebagai orang tua, Anda niscaya mempunyai seribu cara untuk menenangkan bawah umur Anda. Mintalah anak menjelaskan apa yang terjadi kepadanya sehingga beliau menangis. Apakah alasannya ialah perlakuan teman-temannya ? katakan kepada anak Anda, perlakuan teman-temannya tersebut merupakan hal yang tidak baik.
Dengan menenangkan menyerupai itu, sedikit mengajarkan anak mempunyai perasaan untuk memaafkan. Sebagai orang tua, Anda mengajarkan tenggang rasa kepada bawah umur Anda. Meskipun anak belum berhenti menangis setidaknya mereka akan merasa lebih nyaman.
4. Jangan Membanding-bandingkan Anak
Lihatlah kakakmu, beliau bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kau tidak bisa melakukannya menyerupai kakakmu !Temanmu bisa menggambar dengan bagus, kenapa kau tidak bisa menyerupai itu !
Dulu ketika kecil ibu bisa begini, masa kau tidak bisa melakukannya !
Perlakukan setiap anak Anda sama antara adik dan kakak. Jangan pernah membandingkan mereka. Hal ini akan menciptakan seorang anak menjadi kurang percaya diri. Kalau Anda sering membandingkan anak-anak, terutama korban anak paling bungsu, bukan mustahil ia akan benci melihat Anda alasannya ialah terus dibandingkan dengan saudara-saudaranya.
Jika ia sedang mengerjakan sesuatu sebaiknya sebagai orang renta ikut membantunya. Kalau saudaranya sudah mengerti perihal apa yang dilakukan oleh saudaranya mintalah tolong kepadanya. Ini akan mengakibatkan hubungan yang baik antara adik dan kakak, juga hubungan antara anak dan orang renta semakin bahagia. Inilah yang harus dicapai dalam setiap keluarga.
5. Jangan pernah menyampaikan hal ini “Tunggu Ayah Pulang ya! Biarkan kau dieksekusi ”
Kebanyakan para Ibu tugasnya hanya dirumah dan menjaga anak-anaknya (Ibu rumah tangga). Sering kita jumpai dimana seorang Ibu akan menyampaikan ‘Tunggu hingga Ayahmu pulang’, pada ketika ia (Ibu) mendapati anak-anaknya melaksanakan kesalahan disaat Ayahnya sedang tidak berada dirumah.
Jangan hingga menyampaikan hal demikian, itu bisa memperburuk keadaan dan psikoligis anak-anak. Ia akan merasa cemas alasannya ialah menunggu sanksi dari Ayahnya. Setiap bawah umur niscaya lebih sering manja dengan Ibunya jikalau dibandingkan Ayahnya. Kecemasan anak bukan tidak beralasan yang berdampak ke psikologis. Mungkin Ibu akan melebih-lebihkan kesalahannya sehingga ia (anak) akan mendapatkan sanksi yang lebih dari seharusnya.
Selain itu, sebagai Ibu dirumah akan gampang lupa dengan kesalahan si anak. Hal ini tidak baik juga, alasannya ialah sebagai orang renta Anda belum mengoreksi kesalahan anak. Sebaiknya jikalau anak melaksanakan kesalahan, pribadi menegurnya dengan lembut dan ajarkan mereka.
6. Jangan hiperbola dalam memberi pujian
Ternyata menunjukkan kebanggaan hiperbola juga tidak dianjurkan dan kurang baik. Jangan hingga memuji anak terlalu hiperbola alasannya ialah sesuatu hal yang sangat mudah. Cukup memberi kebanggaan dengan biasa saja. Anak-anak juga mengetahui kondisi apa yang dilakukannya merupakan hal yang biasa, bukan sesuatu yang luar biasa.
Lebih tepatnya sebagai orang renta Anda memuji perilaku mereka, jangan memuji alasannya ialah hasil apa yang dilakukannya. Dengan begitu Anda membentuk pribadi anak menjadi lebih baik alasannya ialah sikapnya yang baik. Sebagai orang renta selalu gunakan kata-kata ‘Alhamdulillah’ dalam setiap kebanggaan atau merasa gembira kepada bawah umur Anda.
7. Jangan pernah menyampaikan ‘Kamu selalu… atau Kamu tidak pernah…”
Kamu Selalu…. !
Kamu Selalu…. !
Kamu Tidak Pernah… !
Kata-kata diatas sering keluar dari perkataan orang renta alasannya ialah refleks terhadap anak-anaknya alasannya ialah sesuatu hal. Sebaiknya hindari mengucapkan kata-kata menyerupai ini terutama bagi bawah umur masih seumuran sekolah dasar.
Seroang psikoterapis, Jenn Berrman PHD mengungkapkan. Perkataan tersebut akan menjadi label atau melengket selamanya dalam diri anak.
Bermann mengatakan, pernyataan menyerupai itu yang sering diucapkan orang renta bisa membentuk kepribadaian anak. Bahkan bawah umur bisa menjadi menyerupai yang Anda katakan kepadanya. Jika orang renta sering menyampaikan kenapa kau selalu tidak menelepon ke rumah kalau kau terlambat pulang sekolah.
Sebagai orang renta alangkah lebih baik bertanyalah kepada anak perihal apa yang bisa orangtua lakukan untuk membantu beliau mengubah kebiasaannya. Misalnya, ‘Ibu/Ayah melihat kau beberapa hari terlambat pulang sekolah namun lupa memberitahukan kami . Apa yang bisa Ibu/Ayah bantu supaya kau ingat untuk memberitahukan dengan menelepon?’. Pernyataan menyerupai itu akan menciptakan anak merasa terbantu dan nyaman,” terang dr Berman.
8. Jangan katakan “Bukan begitu caranya, sini semoga ibu saja!”
Bukan begitu caranya. Sini, semoga Ibu kerjakan saja !
Kata-kata diatas sebaiknya harus dihindari. Kebiasaan orang tua refleks berkata menyerupai itu alasannya ialah kurang puas terhadap apa yang sudah dilakukan oleh anaknya. Padahal ini ialah sebuah kesalahan fatal. Dengan berkata demikian sedikit banyak akan menciptakan hati anak menjadi duka dan tersinggung alasannya ialah ketidakmampuannya menuntaskan sesuatu pekerjaan menyerupai harapan Ibu atau Ayahnya.
Sebagai orang renta sebaiknya melaksanakan langkah bersama menuntaskan pekerjaan tersebut sambil Anda menjelaskan bagaimana cara melakukannya. Inilah yang dibutuhkan oleh seseorang anak dari orang tua.
Sahabat renunga Islam, perlakukan anakmu sebaik-baikny. Ia merupakan titipan paling Tuhan paling indah di dunia. Jangan pernah menyakitinya, selalu gemberikan hatinya sewaktu kecil, nanti ketika mereka dewasa, mereka akan memperlakukan kedua orang tuanya melebihi apa yang dirasakannya pada waktu kecil, meskipun ia tau bahwa ia tidak sanggup melaksanakan hal yang sama menyerupai apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Semoga kita selalu di rahmati, di cintai dan di sayangi Tuhan SWT. Amin.
Semoga bermanfaat. Terimakasih. Jazakumullah...