Orang Tua Waspadalah, Ini 6 Jenis Kekerasan Pada Anak yang Kerap Terjadi. Nomor 5 Paling Sering

Ada beberapa situasi yang menyulitkan orang renta dalam menghadapi anak sehingga tanpa disadari menyampaikan atau melaksanakan sesuatu yang tanpa disadari sanggup membahayakan atau melukai anak, biasanya tanpa alasan yang jelas. Kejadian ibarat inilah yang disebut penganiayaan terhadap anak. Dalam beberapa laporan penelitian, penganiayaan terhadap anak sanggup meliputi: penyiksaan fisik, penyiksaan emosi, pelecehan se*sual, dan pengabaian.

Faktor-faktor yang mendukung terjadinya penganiayaan terhadap anak antara lain immaturitas atau ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua, impian yang tidak realistis terhadap kemampuan dan sikap anak, pengalaman negatif masa kecil dari orang tua, isolasi sosial, problem rumah tangga, serta problem obat-obat terlarang dan alkohol. Ada juga orang renta yang tidak menyukai tugas sebagai orang renta sehingga terlibat kontradiksi dengan pasangan dan tanpa menyadari bayi atau anak menjadi sasaran amarah dan kebencian.

Berikut ini ulasan 6 Jenis Kekerasan pada Anak yang Kerap Terjadi. Nomor 5 Paling Sering:
 
Ilustrasi
1.Penyiksaan fisik
Segala bentuk penyiksaan fisik terjadi ketika orang renta frustrasi atau marah, kemudian melaksanakan tindakan-tindakan garang secara fisik, sanggup berupa cubitan, pukulan, tendangan, menyulut dengan rokok, membakar, dan tindakan-tindakan lain yang sanggup membahayakan anak. Sangat sulit dibayangkan bagaimana orang renta sanggup melukai anaknya. Sering kali penyiksaan fisik yaitu hasil dari eksekusi fisik yang bertujuan menegakkan disiplin, yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyak orang renta ingin menjadi orang renta yang baik, tapi lepas kendali dalam mengatasi sikap sang anak.

2.Efek dari penyiksaan fisik
Penyiksaan yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu usang akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, dan meninggalkan bekas baik fisik maupun psikis, anak menjadi menarik diri, merasa tidak aman, sukar membuatkan trust kepada orang lain, sikap merusak, dll. Dan bila insiden berulang ini terjadi maka proses recoverynya membutuhkan waktu yang lebih usang pula.

3. Penyiksaan emosi
Penyiksaan emosi yaitu semua tindakan merendahkan atau meremehkan orang lain. Jika hal ini menjadi contoh sikap maka akan mengganggu proses perkembangan anak selanjutnya. Hal ini dikarenakan konsep diri anak terganggu, selanjutnya anak merasa tidak berharga untuk dicintai dan dikasihi. Anak yang terus menerus dipermalukan, dihina, diancam atau ditolak akan menimbulkan penderitaan yang tidak kalah hebatnya dari penderitaan fisik. 
Bayi yang menderita deprivasi (kekurangan) kebutuhan dasar emosional, meskipun secara fisik terpelihara dengan baik, biasanya tidak bisa bertahan hidup. Deprivasi emosional tahap awal akan menjadikan bayi tumbuh dalam kecemasan dan rasa tidak aman, dimana bayi lambat perkembangannya, atau karenanya memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Jenis-jenis penyiksaan emosi adalah:

Penolakan 
Orang renta menyampaikan kepada anak bahwa ia tidak diinginkan, mengusir anak, atau memanggil anak dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Kadang anak menjadi kambing hitam segala problem yang ada dalam keluarga.

Tidak diperhatikan
Orang renta yang memiliki persoalan emosional biasanya tidak sanggup merespon kebutuhan belum dewasa mereka. Orang renta jenis ini mengalami problem kelekatan dengan anak. Mereka memperlihatkan sikap tidak tertarik pada anak, sukar memberi kasih sayang, atau bahkan tidak menyadari akan kehadiran anaknya. Banyak orang renta yang secara fisik selalu ada disamping anak, tetapi secara emosi sama sekali tidak memenuhi kebutuhan emosional anak.

Ancaman
Orang renta mengkritik, menghukum atau bahkan mengancam anak. Dalam jangka panjang keadaan ini menimbulkan anak terlambat  perkembangannya, atau bahkan terancam kematian.

Isolasi
Bentuknya sanggup berupa orang renta tidak mengijinkan anak mengikuti kegiatan bersama teman sebayanya, atau bayi dibiarkan dalam kamarnya sehingga kurang menerima stimulasi dari lingkungan, anak dikurung atau dihentikan makan sesuatu hingga waktu tertentu.

Pembiaran
Membiarkan anak terlibat penyalahgunaan obat dan alkohol, berlaku kejam terhadap binatang, melihat tayangan porno, atau terlibat dalam tindak kejahatan ibarat mencuri, berjudi, berbohong, dan sebagainya. Untuk anak yang lebih kecil, membiarkannya menonton adegan-adegan kekerasan dan tidak masuk logika di televisi termasuk juga dalam kategori penyiksaan emosi.

Efek dari penyiksaan emosi
Penyiksaan emosi sukar diidentifikasi atau didiagnosa sebab tidak meninggalkan bekas yang faktual ibarat penyiksaan fisik. Dengan begitu, perjuangan untuk menghentikannya juga tidak mudah. Jenis penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, ibarat kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, sikap merusak ibarat tiba-tiba mengkremasi barang atau bertindak kejam terhadap binatang, beberapa melaksanakan agresi, menarik diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

4.Pelecehan se*sual
Sampai ketika ini tidaklah gampang membicarakan hal ini, atau untuk menyadarkan masyarakat bahwa pelecehan se*sual pada setiap usia – termasuk bayi - memiliki angka yang sangat tinggi. Bahkan Hopper (2004) mengemukakan bahwa hal ini terjadi setiap hari di Amerika Serikat.

Pelecehan se*sual pada anak yaitu kondisi dimana anak terlibat dalam acara se*sual dimana anak sama sekali tidak menyadari, dan tidak bisa mengkomunikasikannya, atau bahkan tidak tahu arti tindakan yang diterimanya.

Semua tindakan yang melibatkan anak dalam kesenangan se*sual masuk dalam kategori ini:

Pelecehan se*sual tanpa sentuhan. Termasuk di dalamnya kalau anak melihat pornografi, atau exhibitionisme, dan sebagainya.

Pelecehan se*sual dengan sentuhan. Semua tindakan anak menyentuh organ se*sual orang cerdik balig cukup akal termasuk dalam kategori ini. Atau adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan benda apapun yang tidak memiliki tujuan medis.

Eksploitasi se*sual. Meliputi semua tindakan yang menimbulkan anak masuk dalam tujuan prostitusi, atau memakai anak sebagai model foto atau film porno.

Ada beberapa indikasi yang patut kita perhatikan berkaitan dengan pelecehan se*sual yang mungkin menimpa anak ibarat keluhan sakit atau gatal pada vagina anak, kesulitan duduk atau berjalan, atau memperlihatkan tanda-tanda kelainan se*sual.

Efek pelecehan se*sual
Banyak sekali efek jelek yang ditimbulkan dari pelecehan se*sual. Pada anak yang masih kecil dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, gampang merasa takut, perubahan contoh tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik ibarat sakit perut atau adanya persoalan kulit, dll. Pada remaja, mungkin secara tidak diduga menyulut api, mencuri, melarikan diri dari rumah, mandi terus menerus, menarik diri dan menjadi pasif, menjadi garang dengan teman kelompoknya, prestasi mencar ilmu menurun, terlibat kejahatan, penyalahgunaan obat atau alkohol, dsb.

5. Pengabaian anak
Pengabaian terhadap anak termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu segala ketiadaan perhatian yang memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Pengabaian anak banyak dilaporkan sebagai kasus terbesar dalam kasus penganiayaan terhadap anak dalam keluarga.

Jenis-jenis pengabaian anak:
  • Pengabaian fisik merupakan kasus terbanyak. Misalnya keterlambatan mencari derma medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tidak tersedianya kebutuhan akan rasa kondusif dalam keluarga.
  • Pengabaian pendidikan terjadi ketika anak seperti menerima pendidikan yang sesuai padahal anak tidak sanggup berprestasi secara optimal. Lama kelamaan hal ini sanggup menimbulkan prestasi sekolah yang semakin menurun.
  • Pengabaian secara emosi sanggup terjadi contohnya ketika orang renta tidak menyadari kehadiran anak ketika ´ribut´ dengan pasangannya. Atau orang renta memperlihatkan perlakuan dan kasih sayang yang berbeda diantara anakanaknya.
  • Pengabaian kemudahan medis. Hal ini terjadi ketika orang renta gagal menyediakan layanan medis untuk anak meskipun secara finansial memadai. Dalam beberapa kasus orang renta memberi pengobatan tradisional terlebih dahulu, kalau belum sembuh barulah kembali ke layanan dokter.
Efek pengabaian anak
Pengaruh yang paling terlihat yaitu kurangnya perhatian dan kasih sayang orang renta terhadap anak. Bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tidak memperoleh pengganti pengasuh yang memadai, akan membuatkan perasaan tidak aman, gagal membuatkan sikap dekat (Hurlock, 1990), dan selanjutnya akan mengalami persoalan pembiasaan diri pada masa yang akan datang.

6. Faktor-faktor lain yang menghipnotis besar/kecil dampak yang diderita anak
Disamping segala bentuk penganiayaan yang dialami anak sebagaimana yang tercantum diatas, ada beberapa hal yang memiliki andil dalam besar / kecilnya dampak yang diderita anak, antara lain: 
  • Faktor usia anak. Semakin muda usia anak maka akan menimbulkan akhir yang lebih fatal.
  • Siapa yang terlibat. Jika yang melaksanakan penganiayaan yaitu orang tua, ayah atau ibu tiri, atau anggota keluarga maka dampaknya akan lebih parah daripada yang melakukannya orang yang tidak dikenal.
  • Seberapa parah. Semakin sering dan semakin jelek perlakuan yang diterima anak akan memperburuk kondisi anak.
  • Berapa usang terjadi. Semakin usang insiden berlangsung akan semakin meninggalkan stress berat yang membekas pada diri anak.
  • Jika anak mengungkapkan penganiayaan yang dialaminya, dan mendapatkan dukungan dari orang lain atau anggota keluarga yang sanggup mencintai, mengasihi dan memperhatikannya maka kejadiannya tidak menjadi lebih parah sebagaimana kalau anak justru tidak dipercaya atau disalahkan.
  • Tingkatan sosial ekonomi. Anak pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung lebih mencicipi dampak negatif dari penganiayaan anak.
Dalam beberapa kasus belum dewasa yang mengalami penganiayaan tidak memperlihatkan gejala-gejala ibarat diatas. Banyak faktor lain yang besar lengan berkuasa ibarat seberapa kuat status mental anak, kemampuan anak mengatasi persoalan dan pembiasaan diri. Ada kemungkinan anak tidak mau menceritakannya sebab takut diancam, atau bahkan ia menyayangi orang yang melaksanakan penganiyaan tersebut. Dalam hal ini anak biasanya menghindari adanya tindakan aturan yang akan menimpa orang-orang yang dicintainya, ibarat orang tua, anggota keluarga atau pengasuh. (sumber www.smallcrab.com)