Inilah Syirik Kecil yang Sering Diabaikan Seorang Muslim
Kebanyakan diantara kita tidak pernah menyadari melaksanakan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh oleh Tuhan SWT. Perbuatan tersebut termasuk kedalam kategori dosa kecil. Padahal sudah seharusnya memperhatikannya jangan hingga ke jerumus. Sebagai muslim yang taat kita niscaya mengetahui bahwa iblis terus menarik hati insan supaya menjadi pengikutnya sebagai penghuni Neraka (naudzubillah). Sudah seharusnya kita selalu memproteksi diri. Diantara banyak perbuatan yang tidak boleh oleh Allah, berikut ulasan syirik kecil yang diabaikan seorang Muslim :
Syirik Kecil (Syirik Ashghar)
Bentuk Pertama: Syirik Ashghar yang Zahir (Nampak)
Ini terjadi pada 3 perkara:
Hal Pertama: Syirik Dalam Rububiah
Syirik ini meliputi 3 perkara:
Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti meyakini sesuatu sebagai alasannya ialah dalam menolak mudarat atau dalam meraih manfaat, padahal sebetulnya sesuatu itu bukanlah sebab.
Ibnu Utsaimin berkata, “Barangsiapa yang meyakini sesuatu sebagai alasannya ialah (padahal bukan, penj.) -walaupun dia meyakini bukan sesuatu itu yang mewujudkan keinginan- maka dia telah berbuat syirik kecil. Hal itu lantaran tatkala dia meyakini sesuatu sebagai alasannya ialah padahal sebetulnya dia bukanlah sebab, maka sungguh dia telah menyekutukan Tuhan Ta’ala dalam menghukumi sesuatu itu sebagai sebab, lantaran Tuhan Ta’ala tidak pernah tetapkan sesuatu itu sebagai sebab.” (al Qaul al Mufid)
Dua: Syirik Dalam Amalan.
Syirik ini ibarat orang yang mengenakan jimat-jimat, gelang dan lain sebagainya. Bertujuan untuk mencegah terjadi peristiwa ataupun lainnya. Ini tidak boleh dilakukan, lantaran siapa saja yang tetapkan itu sebagai sebab, padah Tuhan SWT tidak pernah menjadikannya sebagai sebab, maka ia telah menyekutukan Tuhan SWT.
Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Biasanya menyandarkan sesuatu hal kepada bukan selain Allah. Misal, menyandarkan hujan turun kepada bintang-bintang, meskipun ia meyakini hanya Tuhan SWT yang menurunkan hujan. Mengatakannya ibarat ini, kalau bintang terbenam hujan akan turun. Ini menisbatkan turun hujan kepada bintang sebagai sebab, padahal Tuhan tidak tetapkan sebagai sebab.
Hal Kedua: Syirik Dalam Uluhiah
Ini terjadi pada 3 perkara:
Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Meyakini benda sesuatu benda sanggup membawa berkah, padahal Tuhan SWT tidak tetapkan berkah kepada benta tersebut. Hal itu lantaran tabarruk tidak boleh dicari kecuali dari sesuatu yg syar’i, ibarat al Quran, lantaran di antara keberkahannya ialah 1 aksara setara dengan 10 kebaikan. Atau dengan sesuatu yang sanggup ditangkap oleh panca indera dan sudah dimaklumi, ibarat ilmu, lantaran di antara keberkahannya ialah pemiliknya sanggup meraih kebaikan yang banyak dan pahala yang besar darinya.
Dari sini diketahui bahwa tabarruk ialah ibadah, lantaran insan tidak melakukannya kecuali guna meraih pahala, ganjaran, dan kebaikan dari Allah. Sementara ibadah itu harus dibangun di atas dalil dan ittiba’.
Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti menggosokkan tangan pada suatu benda (sebagai tabarruk, penj.) yang Tuhan tidak pernah tetapkan keberkahan padanya. Seperti mencium pintu-pintu masjid, menggosokkan badan ke tiang-tiangnya, dan berobat dengan tanahnya. Dan semisal dengannya, menggosokkan badan ke dinding Ka’bah atau maqam Ibrahim.
Di antara bentuknya ialah mendatangi kuburan namun bukan dengan tujuan ziarah, melainkan untuk berdoa di sisinya lantaran meyakini keberkahan kubur tersebut dan meyakini bahwa berdoa di sisinya lebih utama.
Ibnu Taimiah berkata, “Adapun kalau seseorang meniatkan untuk shalat di sisi kubur para nabi atau orang-orang saleh sebagai bentuk tabarruk dengan mengerjakan shalat di kawasan itu, maka ini murni perbuatan penentangan kepada Tuhan dan RasulNya, penyelisihan terhadap agamaNya, dan memunculkan ibadah gres yang Tuhan tidak pernah izinkan.” (Iqtidha’ ash Shirath al Mustaqim: 1/334)
Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Seperti bersumpah dengan selain nama Allah, ibarat bersumpah dengan Ka’bah atau dengan ar Rasul shallallahu alaihi wasallam atau dengan langit atau dengan kehidupan atau dengan kemuliaan atau selainnya. Hal itu lantaran sumpah, tidak boleh dilakukan kecuali dengan memakai nama-nama Tuhan atau sifat-sifatNya, dan tidak boleh bersumpah dengan selainNya.
Namun, kalau dia meyakini bahwa keagungan makhluk yang namanya digunakan bersumpah itu, sama dengan keagungan Allah, maka itu ialah syirik akbar. Dan kalau dia tidak meyakini ibarat itu, maka itu ialah syirik kecil.
Hal Ketiga: Syirik Dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah
Ini terjadi pada 3 perkara:
Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti bersandar pada sesuatu yang bukan alasannya ialah secara syar’i dan bukan pula alasannya ialah secara kauni. Karena tetapkan sesuatu yang ibarat ini sifatnya sebagai alasannya ialah merupakan bentuk bersekutu dengan Tuhan dalam menghukumi sesuatu sebagai sebab.
Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti mengenakan jimat dan kalung yang katanya sanggup mencegah terjadinya penyakit ain dan semacamnya. Menisbatkan pencegahan dari penyakit kepada sesuatu yang bukan alasannya ialah secara syar’i dan bukan pula secara kauni ialah bentuk syirik kecil, krn dia telah tetapkan sesuatu sebagai alasannya ialah padahal Tuhan tidak pernah tetapkan itu sebagai sebab. Sehingga sanggup dikatakan dia bersekutu dengan Tuhan dalam penetapan sesuatu sebagai sebab.
Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Seperti ucapan: ‘Apa yang Tuhan dan anda kehendaki’, lantaran ucapan ini mengandung penggandengan selain Tuhan bersama Tuhan dengan kata ‘dan’ (yg menyampaikan penyetaraan, penj.)
Ibnu Utsaimin berkata, “Jika dia meyakini bahwa selain Tuhan itu setara dengan Tuhan Azza wa Jalla dalam pengaturan dan kehendak, maka itu ialah syirik akbar. Namun kalau dia tidak hingga meyakini hal itu, dan tetap meyakini bahwa Tuhan Subhanahu wa Ta’ala di atas segala sesuatu, maka itu ialah syirik kecil.” (Al Qaul al Mufid)
Ibnu al Qayyim berkata, “Termasuk syirik kepada Tuhan Subhanah ialah menyekutukan-Nya dalam ucapan. Seperti ucapan seseorang kepada orang lain, “Apa yang Tuhan dan anda kehendaki.” Sebagaimana yang telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada beliau, “Apa yg Tuhan dan anda kehendaki.” Maka Beliau bersabda: “Apakah kau menimbulkan saya sbg tandingan bagi Allah?! Cukup katakan: “Apa yg Tuhan kehendaki semata.” (HR. Ahmad dgn sanad hasan)
Ini tetap merupakan ucapan yang terlarang, padahal Tuhan juga tetapkan kalau hamba juga memang memiliki kehendak. Seperti pada firmanNya: “Bagi siapa diantara kalian yang hendak istiqamah.” (QS. at Takwir: 28)
Maka bagaimana lagi dengan orang yang berkata, “Saya bertawakkal kepada Tuhan dan kepada anda,” “Saya sdh merasa cukup dengan Tuhan dan anda,” “Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Tuhan dan anda,” “Anugerah ini berasal dari Tuhan dan dari anda,” “Ini ialah keberkahan dari Tuhan dan dari anda,” “Allah bagiku di langit dan anda bagiku di bumi,” atau ucapan, “Demi Tuhan dan demi kehidupan si fulan,” atau mengatakan, “Ini ialah nazar untuk Tuhan dan untuk si fulan,” “Aku bertaubat kepada Tuhan dan kepada anda,” “Aku berharap kepada Tuhan dan kepada fulan,” dan ucapan-ucapan lain yang semakna dengannya. (sumber al-atsariyyah.com)
Maka coba bandingkan antara semua ucapan di atas dengan ucapan: “Apa yang Tuhan dan anda kehendaki,” kemudian perhatikanlah, mana dari kedua jenis ucapan ini yg lebih buruk?! Niscaya akan terperinci bagimu, bahwa tanggapan Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas lebih pantas lagi ditujukan kepada orang yang mengucapkan ucapan jenis pertama di atas. Dan bahwa kalau sahabat tadi telah menimbulkan Nabi sebagai tandingan bagi Tuhan hanya dengan ucapan ibarat itu, maka orang yag mengucapkan semua ucapan di atas telah menimbulkan orang yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam -bahkan sanggup jadi dia termasuk musuh-musuh beliau-, sebagai tandingan bagi Rabb alam semesta.” (al Jawab al Kafi hal. 199)
Sahabat renungan Islam itulah klarifikasi perihal syirik kecil yang seharusnya sanggup kita hindari. Ya Allah, ampunilah kami dari kesalahan dan dosa-dosa kami, hanya kepadaMU kami memohon ampunan. Amin.