Sejarah Usaid bin Hudhair Memeluk Islam
Usaid bin Hudhair ialah salah seorang sahabat nabi Muhammad dari Suku Aus dari kalangan Anshar. Usaid digelari kaumnya dengan sebutan “Al Kamil” (yang sempurna), alasannya otaknya yang cemerlang dan kebangsaannya yang masih murni. Dia sangat menguasai pedang dan cendekia menulis.
Sebagai penunggang kuda yang cekatan dia mempunyai ketepatan memanah. Di samping itu dia dikenal sebagai pembaca dan penulis dalam masyarakat. Usaid bin Hudhair ialah pemimpin Aus. Usaid bin Hudhair pertama kali mendengar bacaan al-Quran ialah sewaktu ia hadir ke majlis ta’lim Mus’ab bin Umair di kebun bani ‘Abd al-Asyhal. Hadirnya bukanlah diundang bahkan dengan tujuan untuk menghalang Mus’ab yang sedang berdakwah kepada penduduk Madinah setelah mendengar laporan daripada seseorang bahwa telah tiba seorang pendakwah yakni Mus’ab dari Mekah berdekatan dengan kampung halaman mereka.
Ketika itu Usaid bersama dengan Sa’ad bin Mu’az, yang mana kedua-dua mereka ialah pimpinan kepada kaum Aus. Justru sebagai ketua, Usaid bertanggungjawab terhadap segala yang berlaku dan tanpa lengah, dia mencapai tombaknya menuju ke daerah ta’lim Mus’ab bin Umair.
As’ad bin Zurarah tampak kehadiran Usaid kemudian berkata kepada Mus’ab;
“Jika dia memeluk Islam, niscaya ramai yang akan mengikutnya memeluk Islam. Oleh itu, berlaku benarlah dengan Tuhan dikala berhadapan dengannya. Terangkan Islam kepada ia dengan sebaik mungkin.”
Usaid bin Hudhair bangun ditengah-tengah jamaah. Dia memandang kepada Mush’ab dan sahabatnya, As’ad bin Zurarah, seraya berkata, “Apa maksud tuan-tuan tiba kesini? Tuan-tuan hendak mempengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh. Pergilah tuan-tuan kini juga, kalau tuan-tuan masih ingin hidup.”
Mush’ab menoleh kepada Usaid dengan wajah berseri-seri memantulkan cahaya iman. Dia berbicara dengan gayanya yang simpatik dan menawan, “Wahai pemimpin! Maukah anda mendengarkan yang lebih baik dari itu?”
Tanya Usaid, “Apa itu?”
Kata Mush’ab, “Silakan duduk bahu-membahu kami mendengarkan apa yang kami perbincangkan, silakan ambil, dan kalau anda tidak suka, kami akan meninggalkan anda dan tidak kembali lagi ke kampung anda.”
Kata Usaid, “Anda memang pintar!”
Lalu ditancapkannya lembingnya ke tanah, kemudian dia duduk.
Mush’ab mengarahkan pembicaran kepadanya wacana hakikat Islam, sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an di sela-sela pembicarannya. Rasa besar hati terpancar di muka Usaid. Lalu dia berkata, “Alangkah bagusnya apa yang kau katakan. Dan alangkah indahnya apa yang kau baca. Apa yang kau lakukan kalau kau hendak masuk Islam?”
Jawab Mush’ab, “Mandi (bersihkan badan), bersihkan pakaian, ucapkan syahadatain (bersaksi tidak ada Tuhan selain Tuhan dan sebenarnya Muhammad Rasulullah), setelah itu shalat dua rakaat.”
Usaid pribadi bangun dan pergi ke telaga mensucikan badan, kemudian diucapkannya syahadatain, dan setelah itu dia shalat dua rakaat. Mulai hari itu bergabunglah ke dalam pasukan berkuda Islam seorang bangsa Arab, penunggang kuda yang populer mengagumkan, pemimpin suku Aus yang diperhitungkan. Usaid digelari kaumnya “Al Kamil” (yang sempurna), kerana otaknya yang cemerlang, dan kebang ananya yang murni.
Dia menguasai pedang dan qalam (pena). Sebagai penunggang kuda yang cekatan dia mempunyai ketepatan memanah. Di samping itu dia dikenal sebagai pembaca dan penulis dalam masyarakat.
Dengan Islamnya Usaid, mengakibatkan Sa’ad bin Mu’adz masuk Islam pula. Dan dengan Islamnya ke dua tokoh ini, mengakibatkan pula seluruh masyarakat Aus masuk Islam. Maka jadilah Madinah setelah itu menjadi daerah hijrah Rasulullah , dan daerah berdirinya sentra pemerintahan Islam yang besar.